Hal 20

Nama:ANDI AMRI AMIRUDDIN

Kelas:9D 

Tanggal:2 maret 2022

Bacalah artikel berikut dengan saksama!

Saat Remaja Tak Bisa Kendalikan Diri di Media Sosial

Kehidupan sosial manusia di era internet ini dapat dikatakan semakin mudah. Keberadaan media sosial dalam genggaman membuat interaksi antara satu orang dengan yang lainnya bak tidak terpisahkan oleh jarak. Jarak ribuan kilometer yang memisahkan bukanlah penghalang bagi manusia untuk saling terhubung satu sama lain.

Menurut penelitian yang dilakukan We Are Social "Digital Around The World 2019" bekerja sama dengan Hootsuite, terdapat 130 juta jiwa orang Indonesia yang aktif di media sosial. Dalam laporan tersebut terungkap bahwa total populasi Indonesia yang kini mencapai 265,4 juta jiwa, setengah di antaranya telah menggunakan internet, yaitu sebanyak 132,7 juta.

Apabila dilihat dari angka tersebut maka dapat dikatakan bahwa seluruh pengguna internet di Indonesia adalah pengguna media sosial. Hasil penelitian We Are Social menyebutkan dari 132,7 juta pengguna internet di Indonesia, 130 juta di antaranya adalah pengguna aktif di media sosial dengan penetrasi mencapai 49%. Angka itu juga berarti bahwa lebih dari separuh populasi di Indonesia telah melek media sosial.

Pesatnya penggunaan media sosial telah memengaruhi cara berpikir kita terhadap teman, kenalan, serta orang asing. Selama ini kita memiliki jaringan sosial yang terdiri atas keluarga dan teman dalam lingkaran sosial. Kehadiran media sosial dalam lingkup teknologi membuat jaringan sosial tersebut menjadi membesar dan b da dibanding sebelumnya.

Media sosial membuat orang "masuk" ke dalam jaringan tersebut dengan cara yang sangat mudah dan cakupan yang lebih luas. Salah satu perbedaan terbesar antara jaringan sosial tradisional dengan media sosial adalah batasan-batasan antara ruang privat dengan publik, antara sekolah dengan rumah atau pekerjaan dengan rumah, menjadi kabur.

Hubungan antar manusia yang kian mendekat kendati jarak dipisahkan hingga ribuan kilometer antara satu dengan yang lainnya juga memiliki efek negatif. Seperti kasus penganiayaan yang barubaru ini terjadi terhadap siswi SMP bernama Audrey di Pontianak, Kalimantan Barat. Audrey dikeroyok dan mengalami penganiayaan oleh sejumlah siswi SMA yang diduga dipicu masalah asmaradan saling balas komentar di media sosial.

Bahkan Presiden Joko Widodo merasa khawatir dengan kasus perundungan yang terjadi karena media sosial ini. "Yang pasti adalah, kita sedang menghadapi masalah perubahan pola interaksi sosial antarmasyarakat melalui media sosial. Kita sedang dalam masa transisi pola interaksi sosial itu, hendaknya lebih berhati-hati," kata Jokowi dalam akun Instagram, @jokowi, Rabu (10/4/2019).

Sementara itu pada medio Desember 2018, seorang pelajar SMP di Bekasi dikeroyok empat orang pelajar lainnya setelah saling ejek di media sosial. Hal yang mirip juga terjadi pada November 2018 di Kolong Tol Deplu Raya, Bintaro, Jakarta Selatan. Satu korban tewas setelah dua kelompok pelajar saling tantang untuk berduel di Instagram.

Sementara pada Maret 2019 lalu, Amir Hamdani (17) meninggal. Amir meninggal setelah sebelumnya bertengkar dengan MR di media sosial Facebook. Selain Audrey dan Amir, ada Amir dan Audrey lain yang menjadi korban media sosial dari kalangan remaja di berbagai penjuru Tanah Air.

Berdasarkan penelitian "Social media as a vector for youth violence: A review of the literature",

Media terhadap padaanak beberapasosial teman-temannya, juga kini tahun menjadi adalan terakhir sosial pengguna alat seperti telah internet untuk menjadi perundungan aktif melukai dan dari media alat media diri bagi sosial (bullying), sendiri, sosial, anak telah muda yang seperti pelecehan, menjadi paling untuk Facebook, "fasilitator" melakukan utama serta adalah Twitter kejahatan terhadap tindakan bunuh atau terkait Instagram.kekerasankekerasandiri geng.siber. dan remaja.Media

Remaja masa kini adalah penggunaan aktif dari media sosial, seperti Facebook, Twitter, dan Instagram.

Komentar